BREAKING NEWS

Drama Overtime! Tim USA Susah Payah Taklukkan Bahamas di Laga Pembuka FIBA AmeriCup 2025

(Foto : USA Basketball)

SportIDSuasana di Kaseya Center malam tadi seperti roller coaster emosional bagi para penggemar basket. Tim nasional Amerika Serikat, yang selalu diunggulkan sebagai raksasa di kancah internasional, nyaris tersandung di laga pembuka FIBA AmeriCup 2025. Mereka harus berjuang hingga overtime untuk akhirnya menundukkan tim Bahamas dengan skor tipis 98-95. Pertandingan ini bukan hanya soal kemenangan, tapi pelajaran berharga tentang bagaimana underdog bisa menggoyang tahta para juara.

Babak pertama dimulai dengan dominasi yang diharapkan dari Tim USA. Dipimpin oleh guard muda berbakat, Jamal Carter, yang baru saja menyelesaikan musim gemilang di NBA bersama Los Angeles Lakers, Amerika langsung unggul 12 poin di kuarter pertama. Carter, dengan kecepatan kilatnya, berhasil mencetak 8 poin dari fast break dan assist yang presisi. Namun, Bahamas, yang datang dengan skuad campuran antara pemain veteran dan talenta muda dari liga domestik mereka, tak mau kalah begitu saja. Forward mereka, Rico Thompson, menjadi mimpi buruk bagi pertahanan USA dengan tembakan tiga poin yang akurat, menyamakan kedudukan menjadi 28-28 di akhir kuarter pertama.

Masuk ke babak kedua, intensitas pertandingan semakin meningkat. Pelatih Tim USA, Mike Donovan, yang dikenal dengan strategi defensif ketatnya, mencoba mengubah formasi dengan memasukkan center raksasa, Elijah Grant, untuk menguasai paint area. Grant memang berhasil merebut rebound defensif sebanyak 7 kali, tapi Bahamas memanfaatkan celah di perimeter. Guard Bahamas, Devon Clarke, yang bermain di liga Eropa musim lalu, menunjukkan kelasnya dengan dribble crossover yang membuat defender USA kehilangan keseimbangan. Skor di halftime? USA unggul tipis 52-50. "Kami tahu USA kuat, tapi kami punya hati pejuang," kata Clarke usai pertandingan, sambil tersenyum lebar meski timnya kalah.

Kuarter ketiga menjadi titik balik. Bahamas, yang tampaknya terinspirasi oleh dukungan suporter mereka yang datang dari Karibia, melancarkan serangan balik. Mereka memanfaatkan turnover USA yang mencapai 5 kali di kuarter ini saja, akibat tekanan full-court press yang tak henti-henti. Thompson lagi-lagi jadi bintang, mencetak 10 poin termasuk dunk spektakuler yang membuat arena bergemuruh. Untuk pertama kalinya, Bahamas memimpin 72-68 di akhir kuarter ketiga. Donovan terlihat gusar di bangku cadangan, berteriak instruksi untuk memperketat pertahanan. "Ini bukan soal skill saja, tapi mental. Bahamas bermain tanpa beban, dan itu membuat mereka berbahaya," ujar Donovan dalam konferensi pers pasca-pertandingan.

Kuarter keempat adalah drama sejati. USA bangkit dengan run 8-0 berkat kontribusi forward veteran, Marcus Hale, yang menyumbang 6 poin dari mid-range jumper. Namun, Bahamas tak menyerah. Saat waktu tersisa 30 detik dan skor imbang 85-85, Clarke nyaris menjadi pahlawan dengan tembakan tiga poin yang membentur ring. USA gagal memanfaatkan possession terakhir, memaksa pertandingan masuk overtime. Penonton di arena berdiri, tepuk tangan bergemuruh – ini adalah momen yang mengingatkan kita bahwa basket bukan hanya olahraga, tapi pertarungan kehormatan.

Di overtime, pengalaman Tim USA akhirnya berbicara. Carter, yang finis dengan 28 poin, 7 assist, dan 5 rebound, menjadi motor serangan. Dia mencetak poin krusial dari free throw setelah dilanggar saat drive ke keranjang. Grant menambahkan blok penting di detik-detik akhir, mencegah Bahamas menyamakan skor. Skor akhir 98-95 untuk USA, tapi kemenangan ini terasa pahit manis. Bahamas, meski kalah, mencuri hati banyak orang dengan total 22 poin dari Thompson dan 18 poin plus 9 assist dari Clarke.

Apa yang bisa kita petik dari pertandingan ini? Tim USA, yang diisi bintang-bintang NBA seperti Carter dan Hale, tampaknya masih perlu waktu untuk menyatukan chemistry. Absennya beberapa pemain kunci karena cedera atau komitmen klub membuat mereka rentan terhadap tim-tim yang bermain lebih kompak. Sementara itu, Bahamas membuktikan bahwa FIBA AmeriCup bukan lagi panggung eksklusif untuk raksasa seperti USA, Kanada, atau Argentina. Turnamen ini, yang dihelat setiap dua tahun, semakin kompetitif dengan munculnya talenta dari negara-negara kecil.

Selanjutnya, Tim USA akan menghadapi Meksiko di laga kedua grup mereka besok malam. Donovan berjanji akan melakukan penyesuaian taktik, termasuk lebih banyak rotasi pemain untuk menjaga stamina. "Kami belajar dari malam ini. Kemenangan susah payah seperti ini yang membangun karakter tim," tambahnya. Bagi penggemar basket, pertandingan ini adalah pengingat bahwa di lapangan, segalanya bisa terjadi. Pantau terus update dari FIBA AmeriCup 2025 di situs kami – siapa tahu, kejutan lain menanti!

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar